SIKAPMU
Jika hati tak lagi terusik
Pada mereka yang usil berisik
Jika nurani tak lagi terbetik
Tuk tegakkan izzah setitik
Bahkan seekor semut, tau dimana ia berpihak
Jangan pernah kau cela
Jika kau tak pernah bela
Jangan pernah kau halang
Jika kau tak mau pasang raga
Bahkan seekor laba-laba, tau bagaimana membantu
2. SAJAK
Aku mendengar hening ketika angin mngantarkan pagi melarungkan bilah bilah cahaya di hamparan kabut
3. CERPEN
“Salsa Lorisnia”, itu namaku. Kisah ini bermula sejak aku duduk di bangku SMA kelas X di kota Solo. Setiap hari aku pulang sekolah berjalan kaki dengan seorang sahabat karibku, Dita. Ya, tentu saja karena rumah kami saling berdekatan. Kira-kira butuh waktu 30 menit untuk jalan dari sekolah ke rumah.
19 Maret 2013
Siang itu, seperti biasa, aku dan Dita pulang sekolah, tapi setengah perjalanan, kami kebelet pipis.
“Dit, kembali ke sekolah yuk?”
“Emang ada apa Sa? Ada yang ketinggalan? Udah besok aja itu” jawab Dita dengan buru-buru, sepertinya ia juga kebelet.
“Aku kebelet pipis nih”
“Ya udah, aku pun juga, kalau kita balik ke sekolah, pasti pagar udah ditutup sama pak Satpam, ini kan bari Sabtu”
“Oh ya, aku baru ingat ini hari sabtu ya, kalau sabtu pagar cepat dikunci ya kan?”
“Yaudah cepetan, gak usah banyak ngomong lo Sa, kita ke toilet umum itu aja” sambil menunjuk
“Oh pinter juga kamu ya, kadang-kadang”
“Ih, ni anak sempat aja bercanda” ledek Dita kepadaku.
Toilet umum itu sangat sepi dan tersedia banyak kamar kecil di sana. Kemudian aku dan Dita menaruh tas kami di kursi depan pintu utama toilet. Kami masuk ke masing-masing kamar kecil itu.
“Heea, akhirnya lega juga” sahut Dita menghela napas.
“Ya udah yuk” sambil mengangkat tasku.
Sampai di rumah aku membuka tasku dan kutemukan sebuah amplop kuning di salah satu bagian di tasku. Kubuka amplop itu dan kubaca kertas yang ada di dalamnya. Terdapat sedikit tulisan.
“Hai Salsa, aku cuma mau ingetin satu hal sam kamu, lain kali kamu hati-hati ya singgah di toilet itu, kalau bisa sih jangan, tapi kalau terpaksa ya gak papa deh, karena di sana sepi aku takut kamu kenapa-napa. Oh ya, jangan lupa makan siang ya”
Dari: Pengagum Rahasia
Aku sempat tersontak kaget dan bingung setelah membaca surat itu. Keesokan paginya, aku orang pertama yang sampai di kelas dan kutemukan sebuah amplop kuning seperti kemarin, kubuka amplop itu dan kubaca surat itu:
“Selamat pagi Salsa, asal kamu tahu aku sangat mencintaimu, sudah lama aku mengagumimu. Entah mengapa hal itu terjadi saat aku pertama kenal denganmu, saat kau mendaftar di sekolah ini, dan kulihat kau pernah memasang wajah bingung saat hari pertama kau masuk sekolah ini yaitu saat kau mencari-cari di mana kelasmu. Kau tak perlu tahu siapa namaku sebenarnya, yang pasti aku adalah seorang lelaki dan aku siswa di sekolah ini”
Kusimpan surat itu di tasku. Aku sangat heran siapa lelaki misterius itu ya, tapi aku tahu yang pasti dia bukan siswa sekelas denganku, karena aku orang pertama yang sampai di kelas. Jam istirahat pun tiba, Kutunjukkan surat itu kepada Dita dan kemudian ia membacanya.
“Berarti dia pengagum rahasiamu Sa”
“Tapi siapa ya orangnya?”
“Nanti kita cari tahu aja ya, ya udah yuk kota ke kantin” Kata dita sambil menarik tanganku.
Sudah berulang-ulang orang misterius itu menaruh surat di laci mejaku setiap pagi. Kukumpulkan segala surat itu dalam satu gabungan kertas, kemudian ku selipkan di buku diaryku.
Suatu pagi, tepat 1 bulan lelaki misterius itu mengirimku surat.
19 April 2013, sebuah amplop disertai setangkai bunga mawar.
“Hai Salsa, asal kamu tahu rasa cintaku ke kamu gak pernah pudar, aku sering memperhatikanmu dari jauh walaupun kamu nggak peduli. Tapi, apa kamu ada keinginan untuk mencari tahu tentangku? kurasa itu gak masalah bagiku. Oh ya, setelah 1 bulan aku mengirimkanmu surat, aku rasa ini surat terakhirku untukmu. Itu ada bunga mawar untukmu, kuharap kau menyimpan bunga itu sebagai kenangan abadi. Tapi jika kau tak mau menyimpannya, ya sudah gak masalah bagiku. Tapi dalam surat terakhir ini aku memberi tahu namaku, -Alex-.
Kenapa dia mengatakan surat terakhir ya? Apa yang terjadi pada dirinya? Alex? Sudah 2 hari aku tak mendapat surat darinya.
Singkat cerita, pada hari senin, saat upacara bendera. Pak Heri, kepala sekolah SMA sedang berpidato. Dan, betapa terkejutnya aku mendengar pidato Pak Heri:
“Selamat pagi murid-murid SMA Cempaka Raya, pagi ini bapak akan menyampaikan kabar duka pada murid-murid sekalian. Turut berduka cita atas meninggalnya ‘Alex Pratama’ kelas X-2 tadi pagi jam 06. 00 WIB. Dan akan dikebumikan sian nanti, jika ada murid-murid yang berkenan melihat kediaman duka, bapak persilahkan saat jam 10. 00 nanti”. sekian dan terima kasih.
Kemudian pidato diganti dengan Pak Rudi, guru Bahasa di sekolah kami.
Upacara selesai, murid-murid sibuk membicarakan nama Alex. Tepat jam 10. 00 kami mengunjungi kediaman duka naik bus yang disediakan oleh sekolah. Aku kemudian bertanya pada seorang teman sekelas Alex, tampaknya ia teman dekatnya Alex.
“Eh, kamu temannya Alex kan?”
“Iya, mau bertanya apa tentang Alex?”
“Alex meninggal karena apa?”
“Ia meninggal karena divonis ada kanker yang menjalar di tubuhnya”
Aku terdiam seketika. Sampai di rumah Alex, aku melihat Orang tua Alex sedang menangis tersedu-sedu. Kulihat seorang lelaki tampan sedang tergeletak di ruang tamu itu, yaitu Alex, tak ada napas yang dikeluarkannya, kini ia sudah pergi yntuk selama-lamanya. Dan juga beberapa foto-foto Alex di rumahnya. Dia sangat tampan. Aku kemudian mendengar percakapan 2 orang teman Alex. Mereka mengatakan bahwa Alex dirawat di rumah sakit sambil menjalani operasi. Tapi, sayangnya operasi itu tidak berhasil.
Kemudian, aku meminta izin kepada orangtua Alex untuk melihat kamarnya dan bertanya apa saja yang dilakukannya sehari-hari. Aku masuk ke kamarnya, kulihat sebuah buku diary bercover coklat tergeletak di meja belajar kamar Alex. Kubaca segala isinya dan banyak ungkapan cinta yang ditulisnya di lembaran kertas itu. Dia juga menuliskan namaku di beberapa lembaran buku itu.
Kulihat lembaran terkahir buku itu tertulis:
“Biarlah semua rasa cintaku ini kubawa sampai akhir hayat hidupku”
Untukmu, gadis yang kucintai: Salsa Lorisnia.
Sungguh sedih, sangat sedih aku membaca tulisan itu. Orang tua Alex ternyata sudah membaca buku itu sejak Alex tak sadarkan diri di rumah sakit. Ayah dan Ibunya Alex menyuruhku untuk menyimpan buku diary itu.
“Om, tante, siapapun lelaki yang menjadi pendamping hidupku kelak di masa depan, nama Alex akan selalu kuingat dari lubuk hatiku yang paling dalam. Selalu kupanjatkan doa untuk Alex, Semoga ia tenag di alam sana”.
“I-iya terima kasih Salsa”, jawab ibu Alex tersedu-sedu.
Ibu Alex memelukku.
“Om, tante, suatu saat nanti aku yakin pasti Tuhan akan mempertemukan Aku dan Alex di surga nanti. Kami akan memulai sebuah lembaran kisah hidup yang baru, suatu saat nanti, disana”.
The End
Cerpen Karangan: Anggita Mardika
4. PANTUN
Jalan-jalan ke kota paris.,
Banyak rumah berbaris-baris.,
Biar mati diujung keris.,
Asal dapat dinda yang manis….
5. PUISI
PAHLAWANKU
Oleh Eva Syahyuni
Aku adalah Aku...
Bukan dia atau pun mereka.
Aku terlahir hanya sebagai diriku.
Bukan terlahir sebahai orang lain.
Karena Aku.. Tetaplah Aku..
Yang tak bisa menjadi sosok dia, mereka, atau pun orang lain.
Aku slalu berusaha menjadi dii sendiri.
Tak perduli betapa sempurnanya orang lain.
Tak ingin berubah...
Apa lagi di ubah..
Sebab Aku.. Tetaplah Aku..
Aku tak ingin menjadi dia, mereka, atau pun orang lain.
Karna aku mencintai diriku sendiri.
Dengan segala kekurangan ku, juga kelebihan ku..
Sebab aku mencintai diriku dengan apa adanya..
6. SAJAK
Hembus udara mendesirkan bait-bait sunyi sebuah pagi, yang kemudian lesap ke dalam jenggala rindu matamu
7. CERPEN
HIDUP ROBIN HOOD
“Adil.. apakah ini adil..’apakah arti keadilan telah dirubah..” Suara itu terdengar dengan lantangnya, lalu dia meinggalkanku tanpa sepatah kata lagi. Aku tidak tau apa yang sedang di pikirkannya. tapi, aku merasa kata-kata yang diucakannya itu ada benarnya juga. Selama ini kita memang susah, hidup di bawah roda nasib memanglah menyedihkan, tapi mau bagaimana lagi, tidaklah mungkin jika aku protes kepada tuhan, toh itu akan sia-sia.
Aku merasakan apa yang sedang Kara rasakan saat ini. melihat Orang lain tertawa dan bersenda gurau seenaknya. Sedangkan, kita harus berjuang untuk bisa makan sore nanti, uhh.. itu merupakan hal yang sangat sulit.
Aku masih terbayang akan kata yang diucapkannya tadi. Sudahlah.. sudah kucoba untuk melupakannya.
“Hai Kara.. masih marahkah kau padaku.”
“entahlah, tak bisakah engkau tinggalkanku untuk sejenak” cetusnya. Aku tidak menghiraukan permintaannya itu dan menghampirinya.
“Apa maksudmu? Tak maukah bila aku menemanimu disini.”
“Perlukah aku menjawab pertanyaanmu itu..”
“Baiklah jika kau ingin aku meninggalkanmu, sendiri di bawah jembatan ini.”
Mungkin dia memerlukan waktu untuk menenangkan diri sejenak. Dulu aku dan Kara sering main di bawah jembatan itu. Kita sama-sama tidak memiliki keluarga dan saling membantu agar tetap hidup.
“Aku minta maaf karena telah mengatakan itu tadi” ucap Kara dengan lirih, yang ternyata telah menghampiriku.
“Ya, aku sudah memaafkannya”
“Baguslah.” Ucapnya seakan tak peduli
“Aku juga berpikir bahwa hidup ini memanglah tidak adil.. tapi, apa yang dapat kita lakukan..?” Tanyaku padanya
“Entahlah.” Hanya itu yang dia ucapkan. Lalu dia meninggalkanku sendiri. Di atas jembatan sepi itu.
Aku tidak tau dia kemana karena selama ini kita tidur di bawah jembatan ini. Yah.. kita anak jalanan hidup ini memanglah tidak adil..
Pagi itu terlihat sangat berbeda, Kara tidak ada di sampingku saat aku bangun. Tidak seperti biasanya dia seperti itu, entah tidur dimana dia semalaman ini. Seperti biasa aku telah bersiap untuk bekerja mencari makan untuk hari ini. ‘mencopet ‘mencuri ‘mengambil ‘menjambret, entah apa lagi sebutannya itulah pekerjaanku. Sepertinya aku harus memulainya tanpa Kara.
—
“Sial.. Baru satu dompet,” gumamku. Hari sudah mulai siang namun baru satu dompet yang aku dapatkan. Apakah cukup uang ini untuk makan anak-anak nanti. Tidaklah pantas jika aku memakan uang-uang ini sendiri, karena memang bukan itu tujuanku dan Kara memilih pekerjaan ini. Kita mencari uang dan belikan makanan untuk anak-anak jalanan. Hanya itu yang setiap hari kita lakukan dengan harapan anak-anak itu dapat menjadi orang-orang besar nantinya.
Walaupun hanya saat dompet aku harap cukup untuk makan anak-anak nanti. Uang itu pun telah aku belikan bungkusan-bungkusan nasi. Langkahku terhenti pada sebuah kerumunan orang-orang di dekat jembatan. Begitu banyak orang-orang disini, dari segala golongan. Mulai dari orang berdasi, orang bermobil, juga orang-orang modis. Aku rasa inilah kesempatan besar. Aku mulai aksiku dengan menghampiri kerumunan itu. Mulai dari satu dompet, dua dompet, hingga kurasa hampir tiap saku telah kusentuh. Kurasa tiap dompet itu berisikan kertas-kertas merah dan biru.
Gerak-gerikku terhenti saat aku melihat tubuh yang terbujur kaku tergeletak di depanku. Dialah Kara pentas saja dia tidak kembali semalaman, di dekatnya ada secarik kertas terisi kata-kata yang mengundang orang-orang besar ini untuk berkumpul.
“Akulah Kara.. Aku tinggal di bawah jembatan kota bersama seorang temanku.. dialah orang terhebat yang pernah aku kenal.. mungkin dia tidaklah kaya, mungkin dia tidaklah terkenal, aku juga ragi dia punya masa depan.. tapi dia adalah orang yang terhebat.. dia rela untuk mancopet, mencuri, mengorbankan masa depannya.. tapi uang-uang itu tidaklah ia gunakan.. Uang itu dia gunakan menghidupi anak-anak jalanan yang tidak kalian perdulikan.. merekalah harapannya.. masa depan merekalah yang ia nanti.. Bahkan ia rela untuk dipukul setiap hari..” Kurang lebih seperti itulah isi kertas itu.
Aku pun tersungkur memeluk tubuhnya. Nasi dan dompet-dompet di tanganku terjatuh tergeletak di sekitarku. Dengan spontan orang-orang di sekitarku pun melihat sakunya masing-masing. Mereka hanya terdiam melihatku dan sepucuk kertas di tubuh kara itu.
Cerpen Karangan: Ebta Dhebta
Hembus udara mendesirkan bait-bait sunyi sebuah pagi, yang kemudian lesap ke dalam jenggala rindu matamu
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/sigitpam/kumpulan-sajak-pendek-tentang-luka-cinta-dan-segalanya_550f1f25813311bf2cbc6726
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/sigitpam/kumpulan-sajak-pendek-tentang-luka-cinta-dan-segalanya_550f1f25813311bf2cbc6726
Aku mendengar hening ketika angin mengantarkan pagi melarungkan bilah-bilah cahaya di hamparan kabut
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/sigitpam/kumpulan-sajak-pendek-tentang-luka-cinta-dan-segalanya_550f1f25813311bf2cbc6726
8. PANTUNSelengkapnya : http://www.kompasiana.com/sigitpam/kumpulan-sajak-pendek-tentang-luka-cinta-dan-segalanya_550f1f25813311bf2cbc6726
Gagang golok,,gagang cangkul..,
Gagang cangkul juga gagang celurit..,
Ga bisa nyolok katanya tumpul..,
Biarpun tumpul tetep hasilnya buncit.?
9. PUISI
DARIKU
Oleh Arisaturrosikha
Lama kau pendam
Rasa itu dihati terdalam
Jangan kau jadikan sebagai dendam
Sesuatu yang kau idam(kan)
Bila memang kini masih kau rasakan
Ku mohon sekarang kau hilangkan
Hilang dan musnahkan
Musnah dari ingatan
Saat ini belum tepat waktu
Untuk menjalani hal itu
Sesuatu yang membuatku
Binggung akan jalannya waktu
Apa sebabnya kau begitu
Memaksakan tersiksanya dirimu
Bila memang begitulah dirimu
Ku minta kau merubah itu
Danku pun tak ingin terjerat
Dalam terkuaknya hasrat
Hasrat yang membuat
Dirimu dan aku tersesat
10. PUISI
BOROBUDUR
Oleh Chand Tigar
Lembah indah batu terukir
Titian candi menjulang tinggi
Kudaki dan kunikmati
Di atas aku duduk seorang diri,
tidak bermimpi
Tuhan cipta bukakan mata
Agar manusia tidak berduka
Jalani hidup riang gembira
Di atas bumi indah Nusantara
Walau jauh tetap ku tempuh
Ku ulur benang tak pernah rapuh
Kutulis di buku sampai penuh
Sejarah abadi tidak akan lumpuh
Cerita kubaca tentang budaya
Berdecak kagum orang terpesona
Dibenakmu,
Dipikiranmu,
Dihatimu,
Ada keinginan mengikuti langkahku
Sejarah kubaca sambung cerita
Bukan kisah remaja atau malapetaka
Sejarah penuh arti candi tertinggi
Borobudur bukti peninggalan abadi.
11. PUISI
KEINDAHAN MALAM
Oleh Titin Kartika
Kemanakah pergi
Mencari matahari
Ketika malam datang
Membawa sunyi
Membawa kegelapan
Dalam setiap perjalanan
Hanya bulan dan bintang
Yang menerangi malam
Sungguh indahnya malam
Membawa ketenangan
Dalam kedamaian
Dalam setiap detik dan dentang
Oh .. Sungguh indahnya malam
Bulan dan bintang bersinar terang
Menciptakan ketenangan
Sampai ku terlelap di dalamnya
12. PUISI
Bintang
Oleh Dede Ikrimah
Bintang... Kau membuatku terpana Kau membuatku bahagia Kerlap-kerlipmu sungguh menarik hatiku Meskiku tak tahu seperti apa bentukmu Bintang... Tiapku melihatmu.. Selalu ada cahaya yang menembus kebenakku Kau adalah penyejuk hatiku kau adalah penentram jiwaku kau adalah pengingatku, akan kebesaran Tuhanmu Bintang... Jikaku berada disisimu.. Akankah, kau jadikan diriku seindah dirimu Yang menjadikan orang selalu bertasbih, Akan kebesaran Tuhanmu
13. PUISI
Semesta Alam Bersinar
Oleh Emilia Kurniasari
Kaki boleh melangkah Tangan boleh mengayun Mata boleh berkedip Telinga boleh mendengar Seluruh anggota tubuhku bergerak Melakukan tugasnya masing-masing Tak sama pun tak apa Karena tak semua hal selalu sama Saat kaki tak selaras dengan tangan Saat hati tak selaras dengan alasan Berat melangkah, bahkan berkedip Namun waktu tak bisa dipangkas Aku tetap harus melaju Tinggal kupilih mana yang kan kutempuh Ada yang berat, ada yang ringan Ada yang buruk, ada yang indah Ada yang memaksa begini Tapi aku tak ingin Saat kulihat bintang dilangit Bintang itu bersinar dihatiku Bahkan nyatanya bintang mendukungku Semesta alam bersinar untukku Tuk lakukan sesuai keinginanku Dan akan selalu begitu
14. PUISI
Siang Dan Malam
Oleh Aldy Pratama
Hingar-bingar suasana riuh bersorak-soray di malam buta Pemuda-pemudi bagai lakon pentas jalanan Tak ada sutradara,mereka adalah mereka Sampai terdengar teriakan di balik jendela-jendela Sampai terlihat lampu-lampu mulai memanja bak kumbang malam Sesampainya matahari pagi menerpa bibir bumi Badan layu hingga tertindih di ranjang Rasanya siang masih agak lama membangunkannya Sampai lupa waktu rasional dan profesional Racun malam menghias malam nan senyap Rayuan setan menakar di siang hari Hingga lupa akan jadi apa esok Hingga lupa Rezeki Hingga lupa berbuat apa Bukankah tuhan menggelapkan malam Lalu nampak bersinar di siang hari Agar kalian betebaran di siang hari Dan beristrahat di malam-NYA Maka carilah rahasia-rahasia tuhan Diantara keduanya Sampai kalian mendapati benang putih dalam kegelapan Benang merah di siangnya Agar hidup tak nampak kusuk dan koyak Langit akan runtuh tanpa mewaspadaimu Hingga kemalangan yang terkenang Tak ada kompensasi terhadap hari esok Hingga dirimu hilang di antara siang dan malam-NYA Belajarlah menemui siang Belajarlah menemui malam Belajarlah bermain Belajarlah berilmu
15. PUISI
Panas
Oleh Aminuddin
PANAS hati tak sepanas hari ini kemarin masih bisa bernafas hari ini jangan-jangan sesak nafas badan terkulai lemas ingin segera berkemas tapi ke mana mas? DEKAT-dekat sinilah mana ada pohon kita berteduh di bawah rindang daunnya yang kehijauan SEJUK semilir angin tepiskan rasa panas seketika sambil menunggu hujan turun dari langit sana
16. PUISI
Sang Surya
Oleh Nafisah Aliya Nadhifa
Hari minggu telah tiba Aku terbangun seketika Aku merasakan hangat tubuhku Sang surya tampak membangunkanku Indahnya sang surya muncul di timur Menampakkan sinarnya yang berkilauan Cerah ceria alam ini dengan hadirmu Engkau membuat pagi penuh semangat Surya, terangilah bumi dengan cahayamu Hangatkan kami dengan sinarmu selalu
17. PUISI
Alam Raya
Oleh Nurul Anandhi
Alam Raya Diatas hamparan luas cakrawala dunia ini Ku terbangun dari mimpi Terdengar lembut kicauan burung sambut sang mentari Butir demi butir embun menyejukkan hati Oh indahnya alam ini Menyambut hangat pada diri Menyejukkan suasana dihati Tak terbayang akan kuasa sang ilahi robbi Menciptakan berjuta warna disudut alam ini Wahai alam teruslah engkau membelai hari Bersama hangatnya sang mentari Hingga ku kembali di akhir nanti
18. PUISI
SENJA
Oleh Wahyudin
Dilembayung senja.. Ku ukir namamu.. Diatas daun nyiur.. Ku terbangkan bersama angin.. Senja ini. . . Tak seindah dulu.. Ukiran namamu tak dpt ku raih.. Seperti berjalannya waktu.. Dilembayung senja. . Tersisipkan awan hitam.. Detik demi detik.. Menjadi gelap.. Namaku sirna dari hatimu.. Kau tak mampu menjaga perasaan ini,. Sedikit goncangan kau goyah.. Tak bisa untuk bertahan.. Kau dikendalikan amarahmu.. Dan ku hanya pelampiasanmu.. Senja ini. . Hanya tinggal cerita.. Hanya tinggal kenangan..
19. PUISI
Merpati Putih
Oleh Nurwahidah
Indahnya sore hari ini Di iringi hembusan angin yang sepoi Menyejukkan hati Menemani kesepian diri Terdengar kicauan-kicauan burung yang beterbangan kesana kemari Sungguh pemandangan yang indah Aku ingin selalu menikmati suasana yang penuh damai ini Hembusan angin seolah membelai lembut wajahku Kicauan burung seolah mengejekku yang sedang sendiri Membuatku rindu pada sang merpati putih Ya, aku merindukannya Ia ku ibaratkan merpati putih Memesona Indah kala di pandang Ia mampu taburkan cinta lewat sayap-sayap indahnya Dapatkah ia ku miliki?
20. PUISI
PAPATAH INDUNG BAPA
Oleh Barnas Yutisna Apandi
Papatah na ngajirim
Siang jeung weungi,
Ngadatangan kana raga sangkan
Urang tong waka putus asa
Dina ngajal keun kahirupan didunya. .
Teu paduli miskin jeung kaya
Najan urang jalma teu boga
Moal rek kagoda ku duit naraka,
Sangkan urang masih di bere ka imanan
Moal kagoda ku pang bibita dunya nucan puguh sampurna. . ,
Moal rempah ku caah,
Moal laas ku jaman.
Oge moal runtuh ka teubak angin!!
Papatah indung bapa moal ka kubur ku aya na jaman nu geus mopoho keun kawajiban.
21. SAJAK
Ada samar tergambar dalam senyum purnama, mungkin denyar yang kian hingar di mata malam yang penuh binar.
22. SAJAK
Senyum telah hilang dari bibir malam, kini hanya air mata sebagai penanda; sebuah hati terluka
23. SAJAK
Yang akhirnya kita simpan hanya sebait kenangan kusam karena senyum kita telah lesap bersama hujan tengah malam
24. SAJAK
Lamat-lamat angin mendesaukan suara di getas ranting malam; mungkin tangis yang tersimpan diam-diam di bilik kenangan
25. SAJAK
Siapkan saja secangkir rindu saat aku singgah di berandamu; menghabiskan malam menepikan kenangan
26. SAJAK
Dan doa mengaliri tempat-tempat di lembah penantian, menghanyutkan segala resah tentang ketidakpastian
27. SAJAK
Di selasar pagi kutemukan secarik puisi;semalam malaikat menuliskannya dengan tinta doa untuk kita
28. SAJAK
Lalu kusajakkan cinta lewat desir angin utara, semoga dg baitbait yg sederhana kita mampu menjaga dia tetap menyala
29. SAJAK
Kita sempat mendengar pagi mengetuk mimpi, namun kita memilih lelap agar dapat memaknai rindu yg begitu lekap
30. SAJAK
Aku menuliskanmu dalam puisi pagi, tentang riap angin membelai pucuk ilalang, menyongsong terang agar gelap menghilang
31. CERPEN
INGATLAH AKU
Hari ini SMU tunas bangsa dihebokan dengan kehadiran dua penyanyi terpopuler yaitu ” enhard fransisko dan Wisda natasya”. Dan yang paling menghebohkan adalah bahwa hari ini mereka berdua adalah siswa pindahan di SMU tersebut. Kehadiran mereka disambut dengan meriah oleh siswa/siswi SMU itu, namun ada seorang siswi yang tidak terlalu peduli dengan kehadiran para penyanyi terpopuler. Siapa lagi kalau bukan cherli chornicova, dia memang tidak terlalu ambil pusing dengan urusan seperti itu. Maklumlah dia kan siswi yang bisa dikatakan paling pandai di SMU itu, jadi baginya belajar adalah segalanya. Namun hari ini dia tidak terlalu konsen belajar. Bagaimana tidak, suara anak-anak begitu menggagu telinganya. Walaupun mereka ada di halaman sekolah dan cherli ada di dalam kelas, tapi suara mereka masih sangat menggagu telinganya. Karena sudah tidak tahan, cherli pun pergi ke kantor dan membunyikan bell. Setelah anak-anak mendengar bell tersebut mereka-pun heran, karena semua guru-guru dan bahkan kepala sekolah sedang berada bersama-sama dengan mereka. Tapi tiba-tiba priska berkata…
“ini pasti cherli yang membunyikan bell” kata priska yang adalah teman sekelas cherli
“iya pak, ini pasti cherli” sambung yang lainnya
Setelah itu mereka semua langsung masuk ke dalam sekolah dan memastikan. Tapi setelah guru-guru masuk ke kantor, mereka tidak mendapati siapapun di dalam. Akhirnya mereka menyuruh semua murid untuk masuk ke kelas mereka masing-masing termasuk renhard dan wisda yang mana mereka telah ditetapkan di kelas XI-1. Sesampai di kelas, priska melihat cherli lagi belajar. namun karena ingin tahu yang sebenarnya, priska pun mendekatinya.
“tadi yang membunyikan bell itu kamu cher?” tanya priska
“iya” jawab cherli singkat
Namun setelah itu guru jam pelajaran pertama-pun masuk, yaitu pak luky wali kelas mereka. Cherli sangat senang dengan kehadiran pak luky, pikirnya agar kelas tidak ribut lagi.
“selamat pagi anak-anak, hari ini kalian telah beradah di semester 2. Jadi bapak mohon koreksi perilaku kalian. Baik, hari ini kelas kalian kedatangan murid baru, yaitu dua orang penyanyi. Sekali lagi buat renhard dan wisda selamat datang di kelas XI-1. Dan bapak mau tanya, tadi yang membunyikan bell siapa?” tanya pak luky
Anak-anak yang lain langsung melihat ke arah cherli, cherli langsung mengangakat wajahnya dan melihat ke arah pak luky.
“saya pak” kata cherli sambil mengangkat tangan
“sebentar setelah jam pelajaran berakhir, kamu ikut bapak ke kantor” kata pak luky
Seperti yang pak luky katakan, setelah jam pelajaran akhirnya cherli mengikut pak luky ke kantor. Sesampai di kantor, cherli datanyai oleh pak luky
“cherli, mengapa tadi kamu membunyikan bell?”
“karena suara anak-anak begitu berisik, dan itu menganggu saya belajar”
“iya, tapi nggak sopan. Kamu tahu tadi itu ada apa?”
“iya pak, tapi kan mereka juga murid. Apa bedanya coba sama kita-kita yang lain”
“tapi tadi ada managernya, bapak jadi nggak enak.”
“udah deh pak! nanti kalau menagernya datang marah-marah, panggil aku.” kata cherli dan langsung pergi
Aneh, apanya yang nggak sopan? Kalau nanti managernya datang marah-marah, berarti dia gila. Masa nggak bisa mikir, ini kan sekolah bukan tempat konser. Kata cherli sambil menuju ke kelas.
Hari ini teman-teman kelas jadi berbeda dari sebelumnya karena kehadiran kedua penyanyi tersebut. Biasanya teman-teman kelas selalu datang kepada cherli dan meminta diajarkan tentang pelajaran, namun hari ini mereka semua berkumpul di dekat penyanyi itu dan mendengar mereka bernyanyi. Cherli mulai merasa terganggu. walaupun sudah berapa kali cherli menyuruh diam, tapi tetap saja mereka mendengar wisda dan renhard bernyanyi sambil mengikutinya. Sepertinya teman-teman kelas sedang tidak memihak pada cherli. Merasah tidak dihargai, cherli-pun bersuara keras dari tempat duduknya.
“kalian bisa diam nggak sih!” kata cherli dengan suara keras dan membuat mereka semua melihat cherli
“nggak, emang kenapa? Kalau kamu nggak suka, keluar sana.” kata cindy yang bisa dikatakan dia adalah musuh cherli. Nggak, cherli nggak pernah menganggap dia musuh. Tapi entah bagaimana cindy menganggap cherli adalah musuh besarnya.
“apa kamu gila? Ini kelas bukan tempat konser, Kalau mau nyanyi di ruang musik.” kata cherli dengan emosi
“sepertinya ada yang suka kalau aku bernyanyi. Kenapa? Apa karena kamu nggak bisa bernyanyi? Atau karena suara kamu jelek?” kata wisda tiba-tiba
“apa? Hey jangan mentang-mentang kamu penyanyi, seenaknya saja menganggap rendah orang” kata cherli
“menganggap rendah? Sejak kapan aku menganggap rendah?” tanya wisda
“kamu pikir aku nggak tahu apa yang kamu lakukan dua tahun lalu?” jawab cherli
“bicara apa kamu?” kata wisda dengan sedikit takut
“sudahlah aku masih rasa kasihan sama kamu, Jadi nggak usah perpanjang masalah ini” kata cherli yang langsung keluar dari kelas
Hari itu cherli merasa benci sekali kepada wisda, dasar penyanyi sombong. Tapi kejadian dua tahun lalu masih cherli ingat, kejadian dimana sahabatnya melakukan bunuh diri hanya karena penyanyi sombong itu. Ternyata dia tidak berubah sedikitpun. Kejadian itu berawal dari sahabatnya melia. Melia adalah penyanyi yang sederajat dengan wisda, namun wisda sering kali membuat melia sakit hati. Wisda sering merendahkan melia dan mengatakan kata-kata yang tidak sepantasnya keluar dari mulutnya. Wisda juga memfitnah melia dan mengatakan yang tidak-tidak kepada manegernya. Setelah mendengar apa yang dikatakan wisda, manegernya selalu saja pilih kasih dan tak pernah mempedulikan melia. Merasa tidak diperhatikan, melia mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Dari kejadian itu, cherli tidak lagi berbicara dengan wisda. Cherli sebenarnya adalah sahabat wisda dari kecil. Hanya karena wisda telah menjadi penyanyi, wisda tidak mau lagi berteman dengan cherli. Maka dari itu, setiap bertemu mereka tidak lagi saling sapa. Hari itu seperti biasa kantin adalah tempat yang paling ramai apalagi saat seperti ini jam istirahat. Dan lebih ramainya lagi karena kehadiran dua penyanyi populer itu. Lagi-lagi cherli makan berdua dengan chaca, biasanya bertiga dengan priska tapi hari ini dia lebih memilih makan dengan kedua penyanyi itu.
“priska mana?” tanya chaca ketika mereka lagi makan
“sana” jawab cherli sambil menunjuk ke arah dua penyanyi itu
“sepertinya mereka banyak penggemar, tapi kenapa kamu kayak nggak terlaluh suka dengan kahadiran renhard dan wisda?” tanya chaca
“kamu sendiri?, sepertinya dari waktu mereka datang kamu nggak di halaman sekolah. Kamu beradah di ruang musik kan?” tanya cherli balik
“iya aku di ruang musik tadi! tapi kalau soal ngga sukanya, aku nggak bisa beritahu kamu. Soalnya masalahnya lumayan besar” kata chaca
“aku juga nggak bisa beritahu kamu, soalnya masalahnya lebih besar dari masalahmu” sambung cherli
“masa? Memang masalahnya apa?” tanya chaca penasaran
“apa kamu nggak dengar? Aku nggak bisa beritahu kamu” jawab cherli
Bell masuk-pun berbunyi, anak-anak mulai meninggalkan kantin. Tapi sepertinya cherli memilh untuk tinggal sebentar, dan itu membuat chaca bingung. Karena takut terlambat masuk kelas, chaca meninggalkan cherli sendiri kantin. Cherli sengaja berlama-lama, karena guru yang mengajar fisika dikelasnya saat ini adalah kakaknya sendiri yaitu guru kevin william. Cherli tidak terlalu suka dengan kakaknya, karena menurut cherli yang membuat kakak sulungnya pergi dari rumah adalah kak kevin. Maka dari itu cherli jarang menegur kakaknya kevin, walaupun kak kevin sering menegurnya.
“nak cherli, kok nggak masuk kelas? Ini kan sudah bell” kata ibu ima penjual dikantin tersebut
“iya, ini juga baru mau masuk kelas” kata cherli kaget dan langsung meniggalkan kantin
Cherli berjalan santai menujuh kelasnya. Namun saat hendak mendekati kelas, cherli bertemu dengan revan teman seangkatannya. Revan sangat menyukai cherli dan pernah menembaknya tapi cherli nggak terima. Revan orangnya agak nakal, suka buat usil dan barangkali ini alasan cherli nggak terima revan. Tapi revan orangnya pandai dan bahkan dia adalah saingan terberat cherli di SMU itu. Cherli nggak pernah membenci revan, walaupun tiap kali revan membuat masalah. Yang cherli nggak suka kalau revan mulai berbicara padanya soal cintanya pada cherli, jujur cherli hanya ingin berteman dengan revan. Dan saat bertemu, revan langsung memberikan sebuah bingkisan pada cherli
“ini untuk kamu” kata revan
“apa ini?” tanya cherli
“sesuatu, bukanya nanti kalau kamu sudah sampai di asrama” jawab revan
“oke, makasih” kata cherli yang langsung beranjak ke kelas
Sesampai di kelas, ternyata di dalam telah ada guru kevin. Tanpa memberikan salam, cherli langsung masuk dan duduk di tempatnya. Semua siswa dan bahkan guru kevin heran melihat cherli, namun cherli nggak hiraukan tatapan mereka. Tapi merasah dilihat terus oleh guru kevin, cherli pun bertanya kepada pak guru walaupun cherli sudah tahu jawabannya.
“pak, ada apa?” tanya cherli
“kamu masih pakai nanya lagi. Kenapa kamu terlambat masuk kelas?” tanya pak kevin
“masih ke toilet” jawab cherli singgkat
“nggak ada alasan ke toilet, cepat berdiri disini sampai jam pelajaraan selesai” kata pak kevin yang sudah mulai emosi
Akhirnya cherli menurut juga dan berdiri di depan sampai jam pelajaran selesai, namun tak lama masuklah wisda ke dalam kelas dan langsung menuju ke tempat duduknya juga. Anak-anak menyapanya dengan baik, dan bahkan guru kevin menyapanya dengan baik juga. Merasa tidak adil, cherli pun membantah
“apa-apaan ini, kenapa wisda nggak dihukum. Dia kan juga terlambat masuk kelas” kata cherli dengan marah
“dia kan baru sekali. Kamu kan sudah banyak kali terlambat masuk kelas” jawab pak kevin
“tapi waktu itu juga aku baru sekali terlambat, dan waktu itu juga aku langsung dapat hukuman. Sekarang wisda yang baru sekali terlambat kenapa nggak dihukum? Bapak seharusnya harus bersikap adil” kata cherli yang sudah sangat marah
“sudahlah cher, wisda kan siswa pindahan jadi nggak apa-apa kalau dia terlambat” kata pak kevin
Setelah mendengar pak kevin berkata demikian, cherli langsung mengambil tasnya dan keluar dari kelas. Kira-kira cherli kemana ya? Paling-paling juga ke asrama dan langsung tidur, itulah cherli kalau sudah kesal. Setelah cherli pergi mereka semua terdiam, dan tiba-tiba wisda membuka pembicaraan.
“pak, saya minta maaf.” kata wisda
“iya, nggak apa-apa. Biar nanti bapak yang bicara sama cherli” kata pak kevin menenangkan siswanya. “kalian kerjakan evaluasi 3 di halaman 20. Nanti ketua kelas kumpul di mejanya pak. Soalnya bapak ada urusan. Selama bapak tinggal, kalian tidak boleh ribut.” kata pak kevin dan langsung ke luar kelas
Hari itu pak kevin langsung menujuh ke asrama untuk mencari cherli di kamanya. Tapi ketika pak kevin masuk, dia tak mendapati siapa-siapa di dalam kamar. Pak kevin jadi teringat tentang perpustakaan, pasti cherli berada disana. Dugaan pak kevin benar, setelah masuk ke perpustakaan pak kevin mendapati cherli sedang membaca novel. Akhirnya pak kevin mendekati cherli, tapi kedatangan pak kevin tak cherli hiraukan.
“cherli kakak minta maaf, tadi kakak sudah salah sama kamu. Kamu masih marah sama kakak?” kata pak kevin, tapi sepertinya cherli tak mempedulikan pak kevin. Buktinya dia asyik saja membaca. “cherli kamu dengar kakak nggak sih? Kakak mau minta maaf sama kamu. Kamu jangan seperti ini dong” lanjut pak kevin
“minta maaf untuk apa?” tanya cherli yang pura-pura tak tahu
“untuk tadi, waktu kakak menghukum kamu” jawab pak kevin
“dari semua kesalahan yang kakak buat, hanya untuk tadi kakak minta maaf? Kakak nggak sadar tentang kesalahan yang kakak buat selamah ini? Kak, kakak itu telah banyak berbuat salah. Dan kasalahan kakak yang paling besar adalah…”
“membuat kak aldo pergi dari rumah, ini kan kesalahan terbesar kakak?” kata pak kevin yang memotong pembicaraan cherli. “kakak minta maaf, untuk semua kesalahan yang kakak perbuat. Apapun itu kesalahan kakak, kakak minta maaf. Dulu sebenarnya waktu kak aldo pergi itu bukan salah kakak, tapi itu adalah salah perempuan itu. Perempuan yang telah dicinta mati oleh kak aldo, makanya kak aldo pergi dari rumah hanya untuk perempuan itu. Dan sekarang perempuan itu telah menjadi seorang penyanyi, dan telah bertunangan dengan lelaki lain. Jujur, kakak juga ingin kak aldo pulang ke rumah dan berkumpul bersama kita lagi” kata pak kevin yang hampir melelehkan air mata
“tapi kenapa kakak bilang waktu itu kalau kak aldo pergi karena pacar kak kevin?” tanya cherli
“karena kakak nggak mau kamu membenci kak aldo kalau kamu tahu yang sebenarnya. Sekarang kamu sudah tahu yang sebenarnya, apa kamu membenci kak aldo? Atau kamu masih membenci kakak?” kata pak kevin
“aku nggak membenci siapa-siapa, dan sebenarnya selamah ini aku juga nggak membenci kak kevin. Aku hanya berusaha menghindar karena aku takut nanti aku akan merepotkan dan menyusahkan kak kevin” kata cherli sedih
“kamu nggak pernah menyusahkan kakak, sekarang jangan lagi menghindar dari kakak. Kita sudah saling memaafkan kan?” kata pak kevin sambil tersenyum ke arah adiknya
“iya, kita sudah saling memaafkan. Makasih ya kak”
Cherli merasa lega setelah berbaikan dengan kakaknya, kini dia berjanji nggak akan menghindar dari kakaknya lagi.
Setelah dari perpustakaan, cherli langsung menujuh ke asrama dan masuk kedalam kamarnya untuk bersiap-siap ke ruang musik. Setelah semuanya beres dan hendak keluar, cherli melihat sebuah kotak yang terletak di meja belajarnya dan karena penasaran cherli pun membuka kotak itu. Setelah membukanya, ternyata kotak itu berisih album foto dan secarik surat. Namun cherli membaca surat itu duluan…
Dear cherli…, mungkin kamu sudah tak mengenal aku tapi aku masih mengenal kamu. Aku akui kita sudah 1 tahun berpisah, dan mungkin karena itu kamu sudah tak mengenal aku. Tapi ternyata aku sudah tahu yang sebenarnya telah terjadi padamu, ternyata selamah ini kamu telah kehilangan ingatan karena kecelakaan yang menimpa dirimu. Setiap kali melihatmu di kelas, aku jadi teringat waktu kita SMP dulu. Ternyata walaupun kamu telah kehilangan ingatan, tapi kamu sifat kamu nggak berubah. Cher, aku selalu menunggu kamu. Aku nggak pernah tertarik dengan gadis lain, karena yang aku ingin adalah kamu. Cepet sembuh ya, dan kembali padaku. Mungkin sekarang kamu sudah mulai pulih, tapi pasti kenangan bersamaku kamu masih belum ingat. Di dalam kotak ini, aku meletakkan album foto kita berdua. Silakan buka dan semoga kamu dapat mengingat aku. Cher, I miss You…
Setelah membaca surat itu, cherli melihat album dan membukanya. Namun cherli terkaget, ternyata foto di album itu adalah dirinya dan penyanyi populer itu yaitu renhard. Cherli mulai mengingat kenangan waktu bersama renhard, walaupun kepalanya terasah mau pecah karena cherli memaksa untuk mengingatnya. Namun usahanya tak sia-sia, cherli bisa mengingat renhard. Bahkan semua ingatannya telah kembali, cherli merasa kalau sekarang dia telah sembuh. Cherli langsung buru-buru keluar dari kamarnya dan mencari renhard, cherli pasti menduga renhard berada di ruang musik dan sedang latihan. Setelah sampai di ruang musik, ternyata duagaan cherli benar bahwa renhard berada di ruang musik dan sedang latihan sendiri. Renhard kaget melihat cherli muncul di depannya.
“cherli ada apa? Kamu mau latihan? Kalau kamu mau latihan gitar biar aku yang ajar kamu, kamu sudah belajar kunci berapa saja?” tanya renharad
“maafkan aku, pasti kamu sudah lama menunggu agar aku pulih dari amnesia ini.” kata cherli yang membuat renhard kaget
“jadi kamu telah ingat semua, cher aku senang sekali. Makasih ya” kata renhard yang hendak memeluk cherli
“apa yang kamu lakukan? Kamu mau memelukku?” tanya cherli yang mundur selangkah
“memangnya kamu nggak mau? Aku sudah menunggumu selamah setahun, sekarang aku ingin melepas rinduku. Apa kamu nggak rindu padaku?” tanya renhard balik dan sedikit kesal karena cherli nggak mau memeluknya
“aku rindu, tapi apakah hanya dengan melihatku rasa rindumu nggak terobati?” kata cherli
“nggak, dan maaf aku akan tetap melakukan ini” kata renhard dengan spontan langsung memeluk cherli. Cherli pun terhanyut dalam pelukan renhard dan menerima pelukan itu. Tak lama kemudian masuklah chaca dan langsung kaget dengan apa yang dilihatnya. Chaca pun langsung mengagetkan mereka berdua
“apa yang kalian lakukan? Kanapa kalian berpelukaan di ruangan ini?” tanya chaca
“chaca? Sudah berapa lama kamu berdiri disitu? Apa kamu melihatnya?” tanya cherli takut
“ya, sangat jelas. Tapi, apa kalian pacaran?” tanya chaca balik
“iya, dan kita berpacaran dari sejak SMP” jawab renhard dan langsung membuat cherli kaget
“apa kalian mau meneruskan adegan tadi? Kalau iya aku akan ke luar” tawar chaca
“lebih cepat kamu keluar akan lebih bagus” jawab renhard santai
“apa kamu gila? jangan keluar chaca, hari ini kita akan segerah latihan. Cepat bersiap-siap” kata cherli yang sedikit malu
Setelah cukup lama latihan, mereka pun mangistirahatkan latihan dan akan melanjutkannya besok. Cherli langsung menujuh ke kantin untuk membeli minuman, karena dari tadi sepertinya dia mau mati kehausan. Saat hendak kembali keasrama, cherli melihat renhard duduk di taman sekolah. Cherli pun menhampirinya
“lagi lamunin apa? Kok senyum-senyum sendiri?” tanya cherli yang menganggetkan renhard sambil duduk di sampingnya
“tadi ada bintang jatuh, dan aku sangat bersyukur karena doaku dikabulkan.”
“memang doa kamu apa?”
“dulu aku berdoa agar suatu saat nanti aku bisa bersama lagi dengan bintang yang pernah menerangi hatiku. Dan sekarang aku telah bersamanya, sangat dekat.”
“memang bintangnya mana” kata cherli bingung
“kamu! Kamu adalah bintang itu. Aku merasa sekarang umurku telah panjang setelah aku melihatmu. Cher, jangan pergi lagi ya. Karena jika kamu pergi, rasanya aku akan mati. Jujur aku nggak bisa hidup tanpa kamu” kata renhard seraya memegang tangan cherli
“aku nggak pergi lagi, aku juga nggak bisa hidup tanpa kamu” sambung cherli sambil tersenyum
Malam itu adalah malam yang sangat bahagia bagi kedua pasangan tersebut. Dibawah sinar bulan dan bintang, mereka berpelukan dengan mesranya seperti tidak ingin kehilangan satu sama lain. Renhard tampak begitu bahagia, gadis pujaannya yang selama ini dia cari telah didapatnya. Dan dia ingin cherli adalah orang yang pertama dan terakhir di dalam hidupnya. Keduanya saling melepas rindu, tak peduli teman-teman sekolah melihatnya. Bahkan ketika kak kevin melihatnya, dia hanya tersenyum karena dia tahu renhard adalah orang yang selamah ini telah ditunggu oleh adiknya untuk megembalikan ingatannya.
THE END
Cerpen Karangan: Cherli Sepriyanti Laondang
32. CERPEN
YOU ARE ONLY EXCEPTION
14 februari orang bilang itu hari valentine atau hari kasih sayang, setiap tanggal itu para muda mudi sibuk sekali mempersiapkan hari spesial itu. Entah itu membeli coklat, bunga, boneka atau bahkan ada yang merencanakan liburan bersama pasangan. Aku tak tahu dan tak ingin tahu apa yang muda-mudi itu lakukan yang pasti aku ketahui adalah hari itu UGD rumah sakit tempat aku bekerja selalu penuh. Hari valentine yah entah apa yang mereka lakukan di luar sana, yang pasti banyak pasien yang datang karena kecelakaan. Ada yang kecelakaan lalu lintas, hipotermia, keracunan, patah tulang sampe ada yang keselek cincin.
Seperti valentine-valentine sebelumnya, valentine ini pun sama saja. Entah berapa banyak pasien yang kutangani hari ini, dari luka ringan sampe luka berat.
“dokter Yumi, akan ada pasien yang tiba 10 menit lagi karena kecelakaan, pasien adalah pasien VIP jadi mohon didahulukan” ucap dokter Ryan.
Aku melihat sekilas padanya dan melanjutkan kegiatanku menjahit luka di kepala pasien. Yah namaku Yumi aku dokter intern di UGD sebuah rumah sakit swasta. Yah karena posisiku yang masih intern jadilah pekerjaanku dua kali lipat lebih melelahkan dibandingkan dengan dokter senior. Setelah selesai dengan pasienku aku mengikuti dokter Ryan untuk menyambut pasien VIP itu. Seorang pria keluar dari ambulan dalam keadaan bersimbah darah, aku langsung memeriksanya ternyata ada luka lubang di dada sebelah kirinya.
“apa yang terjadi pada pasien?” tanyaku pada tim penyelamat.
“pasien tertembak”
Aku melotot tak percaya mendengar ucapan kru penyelamat tanpa sadar aku melepaskan tanganku dari dada korban yang pendarahan dan menyebabkan pendarahan korban semakin banyak. Dokter Ryan yang melihat tingkahku langsung marah dan menyuruhku untuk tetap fokus. Aku kembali fokus dan menahan pendarahan di dada pasien sambil mendorong pasien ke ruang operasi. Operasi dipimpin oleh dokter Kris, karena tak banyak dokter yang stand by di rumah sakit jadi aku ikut juga membantu di ruang operasi.
Operasi selesai dalam 2 jam, aku keluar untuk membersihkan diri dan melanjutkan pekerjaanku di UGD.
“dokter Yumi, pasien tadi beneran kena tembak?” tanya suster Sita dan suster Ami.
Aku mengangguk membenarkan, pasien yang terkena tembak itu adalah pasien pertama yang datang ke rumah sakit dengan luka seperti itu. selama aku bekerja di rumah sakit ini hampir 2 tahun ini baru kali pertama ada pasien yang datang karena tertembak dan aku rasa bukan hanya aku yang kaget dengan kedatangan pasien itu semua orang juga kaget dan terus mwmbicarakan pasien itu.
“tampang orangnya seperti apa sih? apa seperti gangster?” tanya suster Sita
Aku menggeleng tak yakin menjawab pertanyaan dokter Sita, aku juga tak melihat jelas bagaimana rupa orang itu tapi seingatku wajah orang itu jauh dari kata seram malah terkesan imut.
“yah dokter kok malah ngelamun? bagaimana tubuh pasiem itu apakah keren?” tanya suster Ami.
“YA… aku ini seorang dokter bukan orang mes*m mana mungkin aku memperhatikan tubuh pasienku” jawabku sambil menjitak kepala suster Ami.
Suster Ami dan Suster Sita tertawa melihat reaksiku, kedua suster ini memang dekat denganku mengingat kami teman sekolah saat SMA dulu. Kedua suster itu juga tahu semua tentangku karena meskipun aku dokter tapi aku lebih banyak bermain bersama mereka.
“dokter apa rencana Valentinemu besok?”
“yah Sita, jangan ngeledek ibu dokter kita ini kayak gak tahu aja ibu dokter kita ini super sibuk mana sempat cari pasangan. iya kan bu dokter?” ucap Ami dengan nada nyinyirnya.
Aku mendelik ke arah mereka tapi mereka malah membalasku dengan tawa. Yah inilah yang mereka jadikan guyonan padaku, kami sama-sama lahir di tahun 90an Ami sudah menikah dan punya anak satu, Sita masih singel tapi entah berapa puluh pria yang dipacarinya. Sedangkan aku masih single dan tak pernah sekalipun terlibat hubungan apapun dengan pria. Dulu ketika mereka mengajakku untuk kencan buta aku selalu menolak karena sibuk jadilah tanpa aku harus bicara ketika menyangkut masalah pasangan mereka akan bilang aku terlalu sibuk untuk memilikinya.
Aku sedang bersanda gurau dengan Sita dan Ami ketika dokter Ryan memanggilku untuk datang ke ruangan dokter Kris. Aku segera menurutinya mengingat dokter Kris adalah profesor pembimbingku sekaligus dokter yang tingkat kesabarannya sedikit rendah. Aku mengetuk pintu ruangannya dan langsung dipersilahkan masuk.
“anda memanggil saya Prof”
“iya, besok hingga seminggu ke depan aku ada pertemuan di Jerman jadi pasien di kamar VIP aku serahkan padamu. Aku ingin laporan perkembangan kesehatannya selengkap-lengkapnya diserahkan padaku saat aku kembali. Aku ingin kamu juga menutup mulut mengenai kondisinya ke dokter lain dan juga rumor tentang luka tembaknya jangan dibicarakan lagi”
“maaf Prof, kalau boleh saya tahu sebenarnya siapa pasien itu?”
“kamu tidak perlu tahu” ucapnya tegas.
Aku mengangguk mengerti dan langsung permisi. Sebenarnya aku sangat penasaran dengan identitas pasien itu apalagi di keterangan pasien hanya inisial S saja bahkan tak ada nama di ruangan pasien.
Aku memeriksa keadaan pasien dan ternyata pasien sudah sadar. Pasien mulai membuka matanya dan langsung mengerang kesakitan, aku langsung memeriksa keadaannya. Setelah kondisi pasien kembali stabil aku celingukan ternyata tak ada satu pun keluarga pasien yang menemani pasien ini.
Aku menghela nafas berat melihat pasien yang sudah kembali tertidur. Aku duduk di kursi tunggu dan merebahkan diri disana, aku pandangi wajah pasien yang terlelap. Dari segi wajah pasien ini terbilang tampan ah malah di antara pasien yang pernah aku tangani pasien inilah yang wajahnya paling ganteng. Tubuh pasien ini juga tinggi kekar bahkan ada sikpack di perutnya. Mengingat apa yang dikatakan Sita tadi, apa mungkin dia seorang gangster? aku langsung menggeleng menolak pemikiran itu. Apa mungkin dia seorang pasukan khusus seperti kapten yoo si jin di drama korea descentend of the sun? aku tersenyum sendiri dengan pemikiranku. Aku terus menebak-nebak identitas si pasien hingga kantuk menderaku dan tertidur disana.
Hari minggu adalah hari paling free tapi saat aku akan menutup mataku untuk istirahat telepon berdering. Dokter Kris menelponku dan menyuruhku untuk datang ke rumah sakit menjaga pasien rahasianya itu. Aku tak bisa menolak dan mengiyakan saja permintaannya. Dengan wajah malas aku datang ke rumah sakit, dokter lain memandangku heran karena aku hadir di hari minggu padahal bukan jadwalku untuk lembur.
“dokter Yumi, inikan hari minggu, kenapa datang ke rumah sakit?” tanya dokter Hans
“aku harus merawat pasien VIP dokter Kris” ucapku malas.
Aku masuk ke ruangan rawat pasien sambil tersenyum. Pasien itu membalas senyumanku dengan manis ditambah dimpel di kedua pipinya membuat pasien itu semakin manis. Aku berdiri terpaku terperangkap dalam pesonanya ‘Song Jong Ki’ gumamku dalam hati. Aku segera menguasai diri dan masuk menemuai pasien itu.
“Selamat pagi Mr S, saya dokter Yumi dokter yang menangani anda selama dokter Kris ada di Jerman” sapaku ramah.
Si pasien itu tersenyum ramah padaku, dia berusaha untuk bangkit tapi dia langsung meringis kesakitan. Aku langsung membantunya untuk segera berbaring lagi.
“jangan terlalu banyak bergerak, luka di bahu anda masih basah” ucapku
“Serkan” ucapnya
Aku mengerutkan kening tak mengerti, lalu membuka pakaiannya untuk memeriksanya.
“Serkan, namaku Serkan bukan Mr S” ucapnya sambil tersenyum geli.
Aku tersenyum lalu membangunkannya perlahan untuk mengganti perbannya. Setelah selesai mengganti perbannya aku memeriksa tubuhnya, aku berkali-kali mendengar detak jantungnya yang berdetak terlalu cepat. Aku melihat ke arahnya yang masih memasang senyum manis di wajahnya. Aku kembali memeriksa detal jantungnya, seingatku peluru itu hanya bersarang di dada atasnya dan tak berpengaruh pada jantungnya tapi kenapa jantungnya berdetak secepat ini.
“tak usah diperiksa lagi, jantungku tidak apa-apa dia berdetak kencang bukan karena sakit tapi karena aku nerveos diperiksa oleh dokter wanita secantik dokter” ucapnya masih dengan senyuman.
Bluss… mukaku langsung merah mendengar ucapannya, aku menunduk karena malu. Baru kali ini ada orang yang terang-terangan memujiku seperti ini. Serkan menggenggam tanganku dan tersenyum begitu manis yang sukses membuatku meleleh.
“terima kasih telah menyelamatkan nyawaku dan membuat hidupku semakin hidup” ucapnya.
Aku terdiam terpana, jantungku langsung bergerak abnormal. Aku langsung membereskan peralaratanku dan berjalan keluar ruangan itu karena malu.
Aku menyandarkan tubuhku di balik pintu, menormalkan detak jantungku yang bertalu-talu. Sepanjang hidup ini adalah hal pertama kali buatku, perasaan deg-degan dan wajah merona oh apakah ini yang dinamakan jatuh cinta?. Aku langsung menggelengkan kepala menyangkal pikiran gila yang tiba-tiba menyerang otakku. Semua ini pasti hanya karena aku terkesan pada pujiannya yah pasti benar ucapku meyakinkan diriku sendiri.
Setelah kejadian itu, jantungku selalu saja bergerak abnormal ketika memeriksa Serkan tapi aku sebisa mungkin bersikap normal meskipun rasanya kakiku seperti jeli melihat senyum manisnya dan mendengar pujian manis darinya. Tenang… tenang… itulah yang selalu aku sugestikan pada diriku sendiri ketika berada di hadapannya. Aku sangat malu untuk bertemu dengannya tapi ada perasaan aneh yang menusukku ketika aku tak bertemu dengannya. Apakah aku sudah gila? sepertinya jawabannya adalah iya.
Seminggu menjadi dokter yang menangani Serkan membuatku stress setengah mati menghadapi komplikasi perasaan di hatiku. Tapi setelah kepergiannya justru membuat hatiku uring-uringan karena rasa ingin jumpa yang membuncah dari dalam hatiku tak bisa tertahankan. Akhirnya karena tak tahan menahan gejolak hati yang asing ini, aku putuskan untuk membagi perasaanku pada Sita dan Ami. Dan hasilnya Sita dan Ami menertawakanku habis-habisan.
Mereka bilang aku terkena virus cinta, aku memungkiri presepsi mereka. Selama hidupku yang berlangsung selama 26 tahun, tak sekalipun aku merasa tertarik pada lawan jenis sekalipun mereka terang-terangan menunjukan ketertarikannya padaku malah ada yang menyatakan cintanya secara langsung. Aku bertekad tak akan pernah merasakan cinta saat orangtuaku memutuskan bercerai di saat usiaku masih 10 tahun dan sejauh ini aku konsisten dengan keputusanku. Tapi kenapa dia Serkan seorang pasien yang kukenal hanya satu minggu mampu menggoyahkan keputusanku dan menjungkir balikan perasaanku seperti ini.
Kutepis segala perasaan yang berkecamuk di hatiku dan fokus untuk bekerja, bekerja dan bekerja. Tapi fokus kerjaku hanya satu bulan saja karena hatiku kembali tak karuan setelah melihat direktur rumah sakit yang baru yang tak lain tak bukan adalah Serkan. Mataku melotot melihat Serkan berdiri tak jauh dariku menampilkan senyum manisnya. Aku berjalan berbalik arah agar tidak berpapasan dengannya tapi suara panggilannya mau tak mau menghentikan langkahku.
“dokter Yumi? tidakkah anda merindukanku? aku selalu merindukan namamu bahkan di setiap helaan nafasku yang selalu kuingat dirimu” ucapnya lirih.
Aku terpaku mendengar pengakuannya, semua orang bersorak mendengar pengakuannya bahkan orang-orang berkumpul mengelilingi kami. Aku malu setengah mati ketika Serkan tiba-tiba berlutut di hadapanku dan menarik tanganku.
“aku tahu kita belum lama saling mengenal, tapi sejak pertama kali aku membuka mataku dan melihat wajahmu hatiku langsung memilihmu. Ini bukan sekedar gombalan ataupun bualan, sepanjang hidupku selama lebih dari 30 tahun ini adalah kali pertama jantungku berdetak begitu kencang ketika berada di depan seorang wanita bahkan wanita-wanita yang kukencani tak pernah membuatku merasakan perasaan ini. Dokter Yumi maukah kamu mencoba menjalin hubungan denganku? aku tahu ini terlalu cepat dan mendadak tapi hatiku begitu tulus padamu jadi maukah kamu mencobanya denganku?”
Aku diam mematung, aku tak tahu harus berkata apa. Semua orang berteriak agar aku menerimanya. Aku memandang wajah Serkan, matanya mancarkan keseriusan dan senyum di wajahnya terukir begitu manis. Aku merasa tangannya yang menggenggamku basah karena keringat dan dapat aku rasakan kegugupan dalam dirinya.
“aku…”
“jangan katakan… ayo kita jalani saja nanti saat aku melamarmu untuk menikahimu bulan depan baru kamu boleh jawab. Sekarang beri aku waktu sebulan untuk menunjukan hati dan perasaanku padamu jadi jangan membantah dan jadilah pacarku” ucapnya tegas sambil menarikku kepelukannya.
Aku hanya melongo mendengarnya, dapat kurasakan detak jantungnya yang begitu cepat ketika memelukku seirama dengan detak jantungku yang abnormal juga. Orang bilang jika jantung kita seirama itu berarti kita jodoh dapatkah aku mempercayai itu untuk saat ini. Aku pernah memutuskan untuk tidak jatuh cinta dan merasaakan cinta tapi untuknya aku rasa hanya dia pengecualian. Aku tak keberatan jatuh cinta padanya dan merasakan manis pahitnya cinta jika bersamanya.
THE END
Cerpen Karangan: Nina
33. CERPEN
SAHABAT KARIB KU
Nama aku caline. Aku punya sahabat yang sangat dekat denganku, panggil saja viar. Viar dan aku bersahabat dari kecil. Kami bersekolah di sekolah yang sama, sehingga kami semakin dekat.
Pada umurku yang ke 13 tahun, kami bersekolah di 1 smp. Aku menyukai cowok yang disukai viar.
Pada umurku yang sudah cukup besar, aku mendapatkan beasiswa ke london selama hampir 5 tahunan. Aku berkuliah disana dan mendapat sahabat baru yang bernama therral. Pada saat wisuda kelulusanku di london, aku mengundang beberapa keluargaku, termasuk mama, papa, adik, kakak dan sahabat karibku viar. Sayangnya viar tidak bisa datang, entah kenapa itu.
Aku akhirnya bisa pulang kembali ke indonesia. Aku langsung ke rumah viar. Betapa terkejutnya aku, viar sudah terbaring di kasurnya dengan keadaan tubuh yang super dingin. Aku dan keluarga viar membawa viar ke rumah sakit. Beberapa jam kemudian, dokter keluar dari ruang ugd dan berkata “Kami sudah berusaha sekuat tenaga, aviar mengalami kanker otak dan stadium akhir. Apakah kalian tidak mengetahui ini?” tanya sang dokter
“Tidak, namun belakangan ini rambut viar suka rontok, dan viar suka mimisan dok” kata ibu viar
“Itu gejalanya” kata dokter
“Jadi viar dinyatakan meninggal” kata dokter.
Aku sangat berduka cita atas kematian sahabatku itu, semua kenangan yang indah bersama therral seakan hilang, tinggalah kenangan terindah bersama viar, namun kenangan indah itu juga luntur karena orangnya telah tiada. Maafkan aku viar, telah berebut pacar denganmu, dan jika kupunya salah.
Viar adalah segalanya bagiku. Selamat tinggal aviar sahabat karibku, terima kasih sudah bersamaku dalam suka maupun duka. Good bye…
Cerpen Karangan: Syafira Rengganis
hay teman teman…..
nama aku syafira rengganis, aku biasa di panggil syafira. aku bersekolah di SDN DR soetomo 5 surabaya.
karangan ku ini adalah karanagan pertama ku. semoga kalian suka ya….!!!
34. CERPEN
SATU JAM SAJA
Ini tentang Dia.
Tentang seseorang yang membuat waktu Lisqia tersita dengan perlahan.
lisqia tak pernah ingin meminta kepada tuhan untuk menyegerakan waktu itu cepat berakhir.
Karena lisqia ingin menikmati waktu yang sesederhana ini, dan untuk menikmati kebahagiaan yang ada di dalam kesederhanaan itu.
Untuk Dia yang sejak lama membuat waktu lisqia lebih banyak tersimpan di dalam paragrafnya. Kata terima kasih untuk tuhan mungkin letih terdengar oleh siapapun dari lisqia, lebih dari sejuta, ribuan, bahkan milyaran. Tapi semoga bagi tuhan tak seperti itu. Kata terima kasih yang terucap untuk tuhan yang telah menghadirkan Dia sejak dulu untuk lisqia.
Untuk Dia yang juga telah lama membuat lisqia selalu tersenyum seaneh yang sering terlihat oleh siapapun, bukan tanpa alasan, dia membuat lisqia merasa tuhan memang kuasa, selalu memberinya kekuatan di dalam ketidak sanggupannya, dan selalu memberinya hal-hal yang membuat lisqia tersenyum dan melupakan sejenak kepedihan dan keletihan hatinya. Dan Dia adalah keajaiban itu,
Senyumannya mampu membuat lisqia kagum kepada tuhan, tuhan menyimpan kepada Dia senyuman seindah itu.
Ketika sang surya mulai menampakkan dirinya, hal yang diinginkan Lisqia adalah menemukan dan merasakan hari yang seperti hari-hari sebelumnya, merasakan waktu yang sebenarnya tak terlihat nyata. Tapi ketika dia mulai menyadari semua itu, ternyata tuhan hanya membuat 1 waktu terjadi dan tak bisa terulang kembali.
Saat surya mulai memberi kesempatan kepada bulan dan bintang untuk menemani langit di malam hari yang mulai gelap gulita, dia kembali menyadari bahwa keindahan yang telah terlewati detik lalu adalah sebuah kenangan yang akan menjadi saksi, saksi bahwa dia pernah ada di waktu itu.
Lisqia menemukan seseorang seperti Dia di waktunya yang selalu tak terasa setiap berlalunya. Menemukan Dia di sebuah kenyataan yang terlihat oleh mata. Pandangannya membuat lisqia sempat diam terpaku.
—
Tapi, saat semua itu berlalu, tuhan mengirimkannya satu kesakitan yang lebih sakit dari apapun. Tuhan memberi dia cobaan. Tuhan menyimpan satu penyakit di dalam tubuhnya dan membuat waktunya sedikit demi sedikit berkurang. Semenjak hari itu dia memiliki rasa takut dari rasa takut yang lain. dia takut ketika tak akan pernah ada lagi yang mengingatnya saat dia telah hilang dari pandangan. Setiap saat dia berdoa kepada tuhan agar memberikan dirinya waktu lagi
“1 jam saja tuhaaann..!!” ungkapnya.
Untuk benar-benar merasakan waktu yang akan beda dia rasakan lagi di tempat barunya nanti. Melihat matahari terbenam, matahari terbit, melihat bintang sirius bersinar terang di atasnya, melihat Dia, melihat semua malaikat tak bersayap miliknya bahagia, duduk bersama pangeran impiannya, duduk bersama siapapun yang menyayanginya, dan bersama siapapun yang membencinya dan meminta dua keinginan yang sangat berharga baginya yaitu “jangan pernah lupakan aku dan tetaplah bahagia”.
Dan, waktunya hampir tiba..
Waktunya untuk meninggalkan semua hal, dan rasa yang masih bisa kita rasakan.
Sebelum nya itu, saat senja di akhir bulan desember menghilang dia masih sempat mengiringi senja yang akan pulang ke peraduannya duduk di bangku taman yang rapuh, sama sepertinya. di antara angin yang berlarian untuk bercerita kepada telinga pendengar bahwa Lisqia akan segera tak terlihat lagi. Saat itu aku hanya bisa menghitung waktu, mendengarkannya, dan memandanginya. Dia duduk di bangku yang rapuh, dihujani oleh daun-daun kering yang rapuh pula, memegang sebuah gitar cantik berwarna biru kebahagiaan dan mengucapkan pinta hatinya yang menandakan bahwa dia tak ingin pergi..
“Jangan berakhir..”
“Aku tak ingin berakhir..”
“1 jam saja, ku ingin diam berdua mengenang yang pernah ada..”
“Jangan berakhir..”
“Karena esok takkan lagi..”
“1 jam saja, hingga ku rasa bahagia mengakhiri segalanya..”
“Tapi kini tak mungkin lagi, Kata mu semua tak berarti,”
“1 jam saja, itu pun tak mungkin..”
“Tak mungkin lagi..”
“Jangan berakhir..”
“Aku tak ingin berakhir..”
“1 jam saja, izinkan aku merasa..”
“Rasa itu pernah ada..”
(lala karmela 1 jam saja)
Dan.. di akhir bulan desember..
Dia benar-benar tak terlihat lagi hingga saat ini..
Lisqia pergi, menyimpan banyak cerita bermakna di dalam ingatanku.
Menyimpan sejuta kekuatan dalan kisahnya..
Dan Meskipun 1 jam permintaan terakhirnya tak cukup baginya.
“semoga kau tenang di tempat yang berbeda”
Cerpen Karangan: Zarah Lisqani Mizhella Eiffelis Winata
35. CERPEN
Hari menjelang sore dan mentari pun mulai meninggalkan duniaku, seperti hari-hari biasa aku kerjakan meskipun tidak berat dan susah, yaitu menyapu halaman dan rumah. Usai menyapu segala isi rumah, aku bergegas untuk membersihkan diri karena hari ini aku sudah ada janji dengan teman-temanku untuk melihat acara Rockmen di Simpang Lima Gumul.
“Mau kemana kok jam segini mau mandi, Nak?” Tanya mamaku keheranan.
“Mau ke rumah teman, Ma!” jawabku. Aku terpaksa berbohong kepada mamaku karena aku takut tidak diperbolehkan keluar sore itu.
Usai mandi dan berdandan selayaknya remaja yang masih pada levelnya, yaitu dengan kemeja berlengan panjang dengan motif kotak-kotak merah hitam, bawahan celana jeans, memakai sepatu cewek berwarna pink. Aku pun mulai keluar rumah, mengambil helm sambil memanaskan motor. Sebelum berangkat mama sempat bertanya lagi seperti sebelumnya.
“Mau kemana, kok dandannya rapi begitu, Nak?” Tanya mama lagi.
“Mau ke rumah teman, Ma!” jawabku. Ini untuk kedua kalinya aku berbohong kembali kepada mama. Meskipun merasa bersalah, tapi aku berusaha menutupi rasa bersalahku tersebut dengan tidak panik dan sedikit tersenyum.
“Jangan pulang malam lo ya?” kata mama lagi.
“Iya Ma!” kataku lagi.
Sebelum ke tempat tujuan, aku mampir di rumah Yessi temanku dan berangkat bersamanya. Karena jam masih terlalu sore untuk menuju ke venue, aku menunggu di rumah Melissa. Kami pun mengobrol dan bercanda bersama, sambil bermain-main dengan anjing milik Melisa yang bercorak hitam putih, lucu sekali. Sudah cukup lama menunggu, kami pun berencana untuk segera berangkat karena takut kemalaman.
“Eh, udah pukul 18.30 nih. Berangkat yuk?” ajakku dengan santai.
“Ayo!!!” jawab Yessi dan Melisa serentak.
Sesampainya di venue, kami bertiga membeli tiket masuk ke venue. Di sana begitu ramai, tapi saya tak melakukan apa-apa hanya berdiam dan menikmati alunan melodi oleh performa band-band di atas panggung. Tepat pukul 20.00 WIB, ponselku berderit tanda ada yang menelepon. Aku sudah menebak bahwa itu adalah kakakku, tapi aku cuek dan tetap fokus pada konser Rockmen tersebut. Saat itu pula, Yessi juga mulai mengajakku pulang. Aku sedikit kecewa karena tidak bisa melihat performa band favoritku, mungkin sangat kecewa. Namun, ketika di jalan kami terjebak macet, sehingga perjalanan kami untuk pulang ke rumah sedikit terhambat.
“Yess, macet nih gimana dong?” keluhku.
“Ya udah sabar aja, yang penting selamat.” Jawabnya.
“Kalau kemaleman kita dimarahi gimana dong?” kataku.
“Ahh, biasanya juga tidak kok.” Jawabnya lagi.
Seperempat jam sudah kami terjebak dalam kemacetan dan kami pun akhirnya tiba di rumah masing-masing. Namun ketika tiba di rumah, suasananya sedikit berbeda. Di depan pintu rumah sudah ada kakak, papa dan mama saya berdiri disana seperti menunggu kedatanganku.
“Darimana kamu, tahu kamu ini jam berapa?” Tanya papaku dengan nada marah.
“Dari rumah teman pa, maaf tadi macet.” kataku untuk berbohong ketiga kalinya.
“Bohong pa, dia pasti dari caffe. Kecil-kecil sudah berani seperti ini, kalau besar mau jadi apa kamu?” kata kakakku memanasi suasana.
“Beneran kak, aku dari rumah teman.” Jawabku kembali.
Tiba-tiba, papa menjawab penjelasanku dengan melontarkan tangan kanannya ke pipiku dengan keras dan tak ketinggalan kakakku juga ikut menampar aku dengan ekspresi marah yang memuncak. Aku terkejut, papa dan kakak bisa semarah ini kepadaku padahal semua yang dikatakan mereka tak sedikitpun ada yang benar. Mama yang melihat kejadian itu, hanya bisa menangis.
“Mau jadi apa kamu, bajingan? Awas kalau sampai papa tahu lagi kamu pulang main malam-malam, papa nggak akan maafin kamu.” Ancam papaku.
“Mana ponselmu? Biar kamu nggak terus-terusan pacaran.” kata kakakku dan terpaksa aku melepaskan ponselku dari genggaman tanganku. Padahal hal itu nggak benar sama sekali.
Setelah papa dan kakak menamparku, serasa hati ini digoreskan serpihan kaca yang tajam. Luka yang ditinggalkan begitu dalam dan mungkin terlalu sulit tuk bisa disembuhkan. Secara fisik aku memang baik-baik saja, namun hati ini tidak bisa terus dibohongi. Goresan luka malam itu membuat ku tidak bisa melupakannya sampai nafas ini berhenti berhembus, karena seumur hidup baru kali ini aku merasakan kejadian dahsyat seperti ini, ditampar oleh papaku dan kakak, disangka berpacaran dan yang lebih parah lagi aku dituduh sebagai wanita nakal yang pekerjaannya pergi ke caffe setiap malam. Padahal, kejadian itu sama sekali tak benar dan tak pernah aku lakukan sepanjang hidupku.
Setelah kejadian itu terjadi mungkin hanya tetesan air mata yang dapat aku luapkan untuk mengimbangi semua rasa sakit saat kejadian itu muncul dalam benakku. Mereka benar-benar tak memahami bagaimana perasaanku. Aku menyadari jika sikapku memang salah, ditampar pun aku tak masalah. Namun, tuduhan-tuduhan itulah yang membuat aku sakit hati yang terlalu dalam. Ingin rasanya aku mengakhiri hidupku malam itu juga. Tapi, aku ingat bahwa semua kejadian buruk yang terjadi dalam dunia ini adalah cobaan yang harus aku hadapi dengan sabar dan keteguhan hati, sekaligus menambah kuatnya imanku.
Bagiku malam itu adalah malam yang bersejarah dalam hidupku, sejarah buruk yang pernah aku lewati sepanjang hidupku. Dan aku berjanji dalam hati bahwa aku tak akan pernah melupakan semua peristiwa yang pernah terjadi padaku malam itu.
SELESAI..
Cerpen Karangan: Putri Kharisma
36. PANTUN
Masak ayam masak tumis..
Iris tipis sampai habis..
Selasa malam hujan gerimis..
Dompet tipis smakin kritis..
Iris tipis sampai habis..
Selasa malam hujan gerimis..
Dompet tipis smakin kritis..
37. PANTUN
Beli berlian dikota belawan..
Hujan gerimis dikota mekah..
Cantik nan itu perawan..
Wajahnya manis senyum merekah..
38. PANTUN
Hujan gerimis deraslah amat..
Ada kilat bertabrakan..
Hari kamis malam jumat..
Yang mau kumat dipersilahkan..
39. PANTUN
Ini musim masih penghujan...
Kata simbok jangan nakal..
yang muslim silahkan Jumatan..
Bawa gembok amankan sendal..
40. PANTUN
Stasiun tugu stasiun kereta api..
Tempat jualan si tukang lapis..
Hari minggu cuma nonton tipi..
Mau jalan dompet dah menipis..
41. PANTUN
Kue rangin rasanya manis..
Kue tar bukanlah lapis..
Malam dingin hujan gerimis..
Sebentar bentar kebelet pipis..
42. PANTUN
Kota bintan banyak perunggu..
Kota ciamis membangun tugu..
Janji kencan dimalam minggu..
Tapi gerimis sudah menunggu..
Nama : Fajrin Akbar K
Kelas : 3ka08
NPM : 13113181
Lalu kusajakkan cinta lewat desir angin utara, semoga dg baitbait yg sederhana kita mampu menjaga dia tetap menyala
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/sigitpam/kumpulan-sajak-pendek-tentang-luka-cinta-dan-segalanya_550f1f25813311bf2cbc6726
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/sigitpam/kumpulan-sajak-pendek-tentang-luka-cinta-dan-segalanya_550f1f25813311bf2cbc6726
Aku mendengar hening ketika angin mengantarkan pagi melarungkan bilah-bilah cahaya di hamparan kabut
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/sigitpam/kumpulan-sajak-pendek-tentang-luka-cinta-dan-segalanya_550f1f25813311bf2cbc6726
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/sigitpam/kumpulan-sajak-pendek-tentang-luka-cinta-dan-segalanya_550f1f25813311bf2cbc6726
Aku mendengar hening ketika angin mengantarkan pagi melarungkan bilah-bilah cahaya di hamparan kabut
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/sigitpam/kumpulan-sajak-pendek-tentang-luka-cinta-dan-segalanya_550f1f25813311bf2cbc6726
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/sigitpam/kumpulan-sajak-pendek-tentang-luka-cinta-dan-segalanya_550f1f25813311bf2cbc6726
Aku mendengar hening ketika angin mengantarkan pagi melarungkan bilah-bilah cahaya di hamparan kabut
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/sigitpam/kumpulan-sajak-pendek-tentang-luka-cinta-dan-segalanya_550f1f25813311bf2cbc6726
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/sigitpam/kumpulan-sajak-pendek-tentang-luka-cinta-dan-segalanya_550f1f25813311bf2cbc6726
Aku mendengar hening ketika angin mengantarkan pagi melarungkan bilah-bilah cahaya di hamparan kabut
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/sigitpam/kumpulan-sajak-pendek-tentang-luka-cinta-dan-segalanya_550f1f25813311bf2cbc672
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/sigitpam/kumpulan-sajak-pendek-tentang-luka-cinta-dan-segalanya_550f1f25813311bf2cbc672
Tidak ada komentar:
Posting Komentar