Sabtu, 26 Maret 2016

RESENSI NOVEL "BALI TO REMEMBER"

Judul: Bali to Remember
Penulis: Erlin Cahyadi
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 224 hlm
Harga: Rp30.000
Terbit: Desember 2010
ISBN: 978-979-22-6444-9


Kira serasa mendapat durian runtuh ketika secara tak terduga ia terpilih untuk tampil sebagai host dalam sebuah acara reality show bertema jalan-jalan. Celakanya, ia harus ditemani oleh Dean, aktor muda yang sedang naik daun di dunia pertelevisian dalam negeri. Sejak kali pertama bersua, Kira telah mengibarkan bendera perang karena sebuah insiden yang membuatnya mencap Dean sebagai seorang yang arogan. Maka, betapa tersiksanya ia harus selalu berdua-duaan dengan cowok itu. Untung saja ada Andros, cowok cute yang telah menawan hatinya sejak cowok itu mengarahkan moncong kamera ke wajahnya, di rumahnya.

Maka, dimulailah petualangan yang penuh dengan beragam rasa yang melibatkan tiga hati di Bali yang super romantis. Bagaimana Kira mendamaikan hati dan perasaannya sehingga dapat menentukan pilihannya untuk melabuhkan cintanya pada Dean ataukah Andros. Simak perjalanan penuh kejutan Kira dalam novel kedua karya Erlin Cahyadi ini.
Harus saya akui, Erlin memiliki kemampuan yang cukup memadai untuk merangkai kata menjadi kalimat yang mengalir lancar serta pilihan diksi yang bagus. Dari waktu ke waktu, perjalanan Kira-Dean-Andros terekam manis dibumbui pelbagai rempah sehingga tersaji hidangan konflik yang mengaduk-aduk emosi. Latar belakang keindahan Bali pada beberapa bagian diulas secara lengkap, memberikan nilai lebih pada novel ini. Bagi saya yang belum pernah sekali pun menginjakkan kaki di pulau dewata tersebut, hikzzz…malangnya nasibku, ulasan tentang Bali itu memberikan sedikit gambaran dan suntikan motivasi untuk segera bisa terbang dan mendarat di Bali.

Sayang, tema yang dipilih Erlin untuk ditulisnya sangat jauh dari original. Terlalu klise, terlalu mudah ditebak, dan terlalu biasa. Pada mulanya saya terhanyut pada adegan cat and dog yang tercipta antara Kira dan Dean, apalagi ditambah kehadiran Andros yang membuat konflik makin menajam. Too bad, adegan itu kemudian seperti tak pernah berakhir. Mereka terus saja bertengkar, lalu berbaikan, lalu bertengkar lagi, begitu terus sampai saya berhenti menikmatinya dan berharap semuanya segera selesai. Saya begitu capek membaca makian demi makian, sindiran demi sindiran, beserta aura negatif yang bertaburan di setiap situasi. Maka, saya pun terpaksa skip halaman. Inginnya saya berhenti baca dan langsung melempar novel ini ke kotak buku-telah-dibaca tapi kan nggak mungkin, lha wong saya belum selesai membacanya tho? Maka, saya paksakan diri untuk menuntaskan membacanya. Dan, thank GOD, akhirnya kelar juga. Meskipun, sekali lagi, dengan melompati banyak sekali halaman.

Agak disesalkan memang bahwa kepiawaian memilih diksi yang dimiliki Erlin tidak dibarengi dengan cerita yang kuat. Plot yang babak belur karena konflik yang tidak berkembang meskipun didukung karakter yang lumayan. Bahkan, secara mengejutkan, saya menyukai beberapa dialog yang ada di novel ini. Maka, maafkan saya jika hanya itu yang saya ingat dari novel ini. Tentu saja saya ingat Bali, tapi lebih karena saya sudah sejak dari zaman putih abu-abu dulu ingin sekali berkunjung ke sana, bukan karena membaca novel ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar